Tampilkan postingan dengan label Penyusutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyusutan. Tampilkan semua postingan
Pengertian AMORTISASI

Pengertian AMORTISASI

Apa Itu Amortisasi ?

Amortisasi - Pada ilmu akuntansi terdapat istilah penurunan nilai atau penyusutan dari sebuah aset yang mempunyai umur ekonomis yang lama.

Aset yang mempunyai umur ekonomis lumayan lama adalah aset tetap dan aset tidak berwujud.

Contoh aktiva tetap misalnya tanah, bangunan, mesin, kendaraan dan yang lainnya

Contoh aset tak berwujud misalnya hak paten, merk dagang, goodwill dan yang lainnya.

Semua aset tersebut memiliki umur ekonomis dan mengalami penurunan nilai setiap waktu.

Nah....

.... Penurunan nilai dalam pengertian akuntansi ini dikenal sebagai penyusutan (depresiasi) untuk aktiva tetap dan AMORTISASI (amortization) untuk aktiva tidak berwujud.

pengertian amortisasi
Amortisasi

Pengertian Amortisasi

Depresiasi merupakan alokasi secara sistematis jumlah nominal yang bisa disusutkan terhadap aset tetap selama masa manfaatnya (umur ekonomis) aset tersebut.

Sedangkan pengertian amortisasi adalah suatu penurunan atau pengurangan nilai suatu aktiva tidak berwujud secara bertahap dalam rentang jangka waktu tertentu di setiap periode akuntansi.

Pengurangan nilai aktiva tak berwujud ini dilakukan dengan cara mendebit akun beban amortisasi dan mengkredit akun aktiva tak berwujud.
 
Jadi terlihat bedanya

Aktiva Tetap : Penyusutan
Aktiva tak Berwujud : Amortisasi

Contoh jurnal amortisasi :

jurnal amortisasi

Definisi Amortisasi yang lain menyebutkan,

Amortisasi adalah Non Notification Loan yaitu suatu prosedur akuntansi yang dengan cara bertahap mengurangi nilai biaya dan suatu aset dengan umur ekonomis yang terbatas atau aktiva tak berwujud lain melalui pembebanan secara berkala ke pendapatan.

    Amortisasi juga bisa memiliki arti pengurangan kewajiban dengan pembayaran pokok serta bunga dengan teratur dalam jumlah tertentu hingga pinjaman terbayar ketika tanggal jatuh tempo.

    Misalnya, apabila biaya sebesar Rp 10 Juta dan harus di amortisasi selama 10 tahun,

    Laporan keuangan nanti akan menyajikan biaya Rp 10 juta /tahun selama 10 tahun.

    Apabila biaya tidak di amortisasi kan, seluruh Rp 10 juta akan muncul di dalam laporan keuangan sebagai beban pada saat tahun pengeluaran itu dilakukan.

    Contoh Penyusutan Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)

    Contoh Penyusutan Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)

    metode saldo menurun
    Metode Saldo Menurun

    Penyusutan Aset Tetap Metode Saldo Menurun (Declining Balance Method)

    Pada dasarnya, Aset Tetap dianggap akan memberikan kontribusi terbesarnya pada awal awal masa penggunaan.

    Ya ini karena mesin masih dalam kondisi gress, segar dengan kekuatan yang masih optimal.

    Masih jauh dari masa aus (rusak) mesin atau aset tetap yang lainnya.

    Namun, seiring berjalannya waktu, kontribusi aset terbesar tersebut mulai menurun, kinerjanya tak lagi bisa maksimal, mesin tak lagi muda dan turun performa, gedung mulai reyot reyot, kendaraan mulai mogok mogok dan lain sebagainya.

    Metode ini sesuai jika dipergunakan untuk jenis aset tetap yang tingkat kehausannya tergantung dari volume produk yang dihasilkan, yaitu jenis aset mesin produksi.

    Rumus Depresiasi Saldo Menurun

    Penyusutan = [(100% : Umur Ekonomis) x 2] x Nilai Perolehan/Nilai Buku

    Contoh kasus penyusutan metode saldo menurun:

    Supaya lebih mudah, kita gunakan contoh kasus sebelumnya yang kita kerjakan menggunakan metode garis lurus

    Sebuah mesin diperoleh pada tanggal 6 Juni 2014, harga perolehan mesin tersebut sebesar Rp 13,000,000 dan mesin tersebut ditaksir memiliki umur ekonomis 10 tahun

    Apabila nanti sudah tidak digunakan lagi atau aset ditarik penggunaannya, diperkirakan mesin tersebut masih bisa ditimbang kiloan, besi tuanya dapat dijual seharga Rp 1.000,000.

    Dalam pencatatan akuntansi aset tetap, perusahaan menggunakan metode penyusutan saldo menurun.

    Penyusutan tahun 2014 = [(100% : 10) x 2 ] x 7/12 x 13.000.000
    = Rp 1.516.710

    Notes :
    Karena selama tahun 2014 aset hanya digunakan 7 bulan, maka dikali 7/12

    Penyusutan tahun 2015 = [(100% : 10) x 2 ] x (13.000.000 - 1.516.710)
    = Rp 2.296.658

    Notes :
    Nilai buku aset tahun 2015 dikurangi penyusutan aset tahun sebelumnya, sebesar Rp 1.516.710

    Untuk tahun tahun setelahnya, cara pengerjaanya sama, hingga 10 tahun masa pengoperasian mesin tersebut.

    Lalu saat pencatatan, jurnal nya adalah sama dengan metode garis lurus, cuma beda di angka saja.

    31 Desember 2014

    Debit | Depreciation Rp 1.516.710
    Kredit | Accumulated Depreciation Rp 1.516.710

    Untuk tahun berikutnya juga sama jurnalnya

    31 Desember 2015

    Debit | Depreciation Rp 2.296.658
    Kredit | Accumulated Depreciation Rp 2.296.658


    Jurnal jurnal penyusutan tahun tahun berikutnya sama saja, jadi tidak perlu dijelaskan lagi. :)

    # Pada akhir periode, penyusutan ini juga harus dilakukan jurnal penyesuaian !

    Jurnal penyesuaian ini untuk mengakui adanya beban pada aset mesin ini. penyesuaian atas penyusutan aset tetap ini sejumlah akumulasi penyusutan selama periode berjalan.

    Pencatatan dalam jurnal penyesuaian:

    Contoh Jurnal Penyesuaian Aset Tetap Mesin Tahun 2014 :

    Debit | Accunulated Depreciation Rp 1.516.710
    Kredit | Depreciation Expense Rp 1.516.710

    Jurnal Penyesuaian tahun 2015 :

    Debit | Accumulated Depreciation Rp 2.296.658
    Kredit | Depreciation Expense Rp 2.296.658


    Untuk jurnal penyesuaian tahun tahun berikutnya, cara pengerjaanya sama saja.

    Notes:
    Dengan menggunakan metode penyusutan saldo menurun ini, jumlah angka penyusutan tiap tahun akan mengalami penurunan penyusutan tiap tahunnya.

    Hal ini menunjukkan bahwa aset tetap (khususnya mesin) memberikan kinerja, manfaat terbaiknya terhadap perusahaan berada pada saat awal awal aset tetap tersebut digunakan, semakin lama semakin menurun kinerja aset tetap tersebut karena keausan.
    Contoh Penyusutan Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

    Contoh Penyusutan Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

    Penyusutan Metode Garis Lurus

    Seperti di ketahui, metode penyusutan terdiri dari beberapa metode, diantaranya:
    • Metode Penyusutan Garis Lurus
    • Metode Penyusutan Menurun Ganda
    • Metode Penyusutan Jumlah Angka Tahun
    • Metode Penyusutan Satuan Jam Kerja
    • Metode Penyusutan Satuan Hasil Produksi
    Apapun metode dan jenis aktiva yang digunakan, perusahaan sebaiknya menerapkan salah satu metode yang ada dengan konsisten, tidak mengubah-ubah metode penyusutan yang dipakainya.

    Dan jikapun harus melakukan perubahan metode penyusutan, hendaknya diberikan penjelasan mengenai alasan perubahan metode dalam sistem akuntansi yang dipakai dalam laporan keuangan.

    Metode Penyusutan Garis Lurus | Straight Line Method

    Penyusutan Metode Garis Lurus ini adalah salah satu metode yang termasuk paling banyak diaplikasikan oleh perusahaan perusahaan di indonesia.

    Metode garis lurus ini menganggap aktiva tetap akan memberikan kontribusi yang merata di sepanjang masa penggunaannya.

    Sehingga aset tetap akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang sama dari periode ke periode lainnya hingga aktiva tetap tersebut tidak digunakan kembali dalam kegiatan operasional perusahaan.
    Perhitungan penyusutannya:

    penyusutan aset metode garis lurus
    rumus penyusutan aset tetap metode garis lurus

    Bisa juga menggunakan persentase:

    penyusutan aset metode garis lurus
    rumus penyusutan aset tetap metode garis lurus

    Contoh Soal Penyusutan Metode Garis Lurus :

    Sebuah mesin diperoleh pada tanggal 6 Juni 2014, harga perolehan mesin tersebut sebesar Rp 13.000.000

    Mesin tersebut ditaksir memiliki umur ekonomis 10 tahun.

    Dan apabila nanti sudah tidak digunakan lagi atau aset ditarik penggunaannya, diperkirakan mesin tersebut masih bisa ditimbang kiloan (spesialisasi orang madura nih, hehe becanda) besi tuanya dapat dijual seharga Rp 1.000.000.

    Dalam pencatatan akuntansi aktiva tetap, perusahaan menggunakan METODE GARIS LURUS

    Perhitungan Penyusutan :

    Beban penyusutan untuk tahun 2014, dihitungan dengan cara :

    Beban Penyusutan = 7/12 x [(Rp 13.000.000 – 1.000.000) : 10 tahun]
    = Rp 699.999

         *Rp 699.999 kita bulatkan saja menjadi Rp 700.000 untuk memudahkan

    # Tunggu.. Darimana angka 7/12 ?

    Begini... Dalam 1 tahun, terdapat 12 bulan, dan mesin tersebut mulai dioperasikan mulai Bulan Juni

    Jadi selama tahun 2014, mesin tersebut digunakan pada bulan :

    Juni - Juli - Agustus - September - Oktober - November - Desember.

    Jadi pada tahun 2014, Mesin tersebut digunakan selama 7 Bulan

        Maka penyusutan selama 7 Bulan tersebut : 7/12

    Seandainya mesin tersebut diperoleh tanggal 1 januari, maka pada tahun 2014 mesin tersebut digunakan selama 12 bulan dan dihitung dengan cara :

    12/12 x [(Rp 13.000.000 – 1.000.000) : 10] …….dan seterusnya

    Dan untuk tahun 2015, maka beban penyusutannya selama 12 bulan full jadi menggunakan 12/12
    Atas pembebanan penyusutan tahun 2014 dicatat sebagai berikut :

    31 Desember 2014 :

    Debit |Depreciation Rp  700.000
    Kredit | Accumulated Depreciation Rp  700.000

    Apabila kita teruskan, maka akan penyusutan selama 10 tahun akan terlihat seperti tabel penyusutan dibawah ini
    contoh penyusutan aktiva metode garis lurus
    Tabel penyusutan metode garis lurus

    # Pada akhir periode, penyusutan ini juga harus dilakukan jurnal penyesuaian. Mengapa?

    Gunanya adalah untuk ini: mencatat nilai buku mesin yang sebenarnya. Seperti diketahui, penyusutan mesin artinya nilai mesin yang berkurang. Jadi bukan hanya mencatat pengakuan beban saja. Tapi juga: berkurangnya nilai mesin itu sendiri.

    Nilai mesin berkurang sebesar akumulasi penyusutan tahun berjalan.

    Pencatatan dalam jurnal penyesuaian 2014:

    Debit | Accumulated Depreciation Rp  700.000
    Kredit | Machine Rp  700.000

    Penyusutan Aset Tetap (Depreciation)

    Penyusutan Aset Tetap (Depreciation)

    Penyusutan Aktiva Tetap

    Penyusutan - Setelah Aset Tetap diperoleh, maka aset tetap tersebut akan digunakan oleh perusahaan untuk kegiatan operasional dan produksinya.

    Dalam fase ini, perlakuan akuntansi terhadap aktiva tetap ada beberapa perlakuan, salah satu perlakuan akuntansinya adalah PENYUSUTAN AKTIVA TETAP.

    Selain itu, perlakuan yang lainnya seperti expenditure dan revaluasi aset tetap yang akan saya bahas juga nantinya.

    Penyusutan Aktiva Tetap (Depreciation) merupakan konsekuensi dari penggunaan aktiva tetap dimana aktiva tetap akan mengalami penurunan fungsi.

    penyusutan aktiva tetap
    Penyusutan


    Standar Akuntansi Keuangan (SAK) menyatakan penyusutan adalah jumlah yang bisa disusutkan dialokasikan ke setiap periode akuntansi selama masa manfaat aset tetap menggunakan berbagai metode penyusutan yang sistematis.
    Apapun metode penyusutan yang digunakan, didalam dunia akuntansi diperlukan konsistensi dalam aplikasinya, tidak berubah ubah, tanpa memandang pertimbangan pajak ataupun tingkat keuntungan perusahaan.

    Ini supaya laporan keuangan nantinya bisa dibandingkan antara periode satu dengan periode yang lain, sebelum atau sesudahnya.

    Dalam bahasa sederhana, penyusutan aset tetap ialah biaya perolehan aset tetap yang dialokasikan kepada Biaya Operasional akibat penggunaan aset tetap.

    Atau dengan kata lain biaya yang dibebankan kedalam harga pokok produksi sebagai akibat dari penggunaan aset tetap dalam proses produksi serta operasional perusahaan secara umum.

    Contoh Jurnal Atas Penyusutan Aset Tetap sebagai berikut:

    Bentuk Jurnalnya :

    Debit | Penyusutan Rp xxx
    Kredit | Akumulasi Penyusutan  Rp xxx

    Biasanya dicatat saat tutup buku, besarnya nilai penyusutan tergantung dari beberapa faktor dan Ini dia beberapa faktor yang dapat mempengaruhi besarnya penyusutan.

    Faktor Faktor Penyusutan Aktiva Tetap

    1. Harga Perolehan [Acquisition Cost]

    Faktor yang sangat berpengaruh atas besaran biaya penyusutan adalah harga perolehan atau acquisition cost.  

    2. Nilai Residu atau Nilai Sisa Aset [Salvage Value]

     Nilai Sisa Aset adalah prediksi atau taksiran potensi arus kas masuk bila aset tersebut dijual pada saat penarikan atau penghentian aset.

    Salvage Value tidak harus/selalu ada, misalnya pada masa penarikannya asetnya tidak bisa dijual atau tidak laku untuk dijual. hanya jadi limbah saja (scrap).

    Eh, bahkan scrap pun masih ada nilai jualnya.

    Umur Ekonomis Aset Tetap [Economical Life Time]

     Dalam penentuan beban penyusutan, yang dijadikan bahan perhitungan adalah umur fungsional yang biasa dikenal dengan umur ekonomis.

    Biasanya aset tetap memiliki dua (2) jenis umur:
    • Umur fisik Aset Tetap, berhubungan dengan kondisi fisik suatu aset tetap.
    Suatu aset memiliki umur fisik apabila secara fisik aset tersebut masih baik kondisinya meskipun mengalami penurunan fungsi.
    • Umur Fungsional Aset Tetap, berhubungan dengan kontribusi aset tetap tersebut dalam penggunaanya. 
    Aset Tetap masih mempunyai umur fungsional apabila aset tetap tersebut masih memberikan manfaat atau kontribusi dalam operasional produksi perusahaan meskipun secara fisik suatu aset tersebut sudah tidak baik

    Atau bahkan jika suatu fisik aset perusahaan masih dikatakan baik, tapi karena tidak berkontribusi bagi perusahaan, maka aset belum tentu memiliki umur fungsional.

    Metode Metode Penyusutan Aset Tetap  (Depreciation Method)

    • Metode penyusutan yang berdasarkan waktu yaitu metode garis lurus, metode pembebanan yang menurun yang terdiri dari metode jumlah angka tahun dan metode saldo menurun atau metode saldo menurun berganda.
    • Metode penyusutan berdasarkan penggunaan yaitu metode jam jasa dan metode jumlah unit produksi.
    • Metode penyusutan yang berdasarkan kriteria lainnya yaitu metode berdasarkan jenis kelompok, metode analisis, metode sistem persediaan.

    Namun, kebanyakan di Indonesia hanya ada beberapa metode saja yang sering digunakan dalam praktenya.

    Berikut adalah 2 metode penyusutan yang paling sering diaplikasikan karena mudah dan juga relevan dengan perlakuan akuntansi.

    Metode Garis Lurus [ Straight Line Method ]

    Metode ini menganggap aset tetap akan mengalirkan manfaat yang merata disepanjang penggunaannya, sehingga aset tetap dianggap akan mengalami tingkat penurunan fungsi yang sama besar disetiap periode penggunaan hingga aset tetap tidak dapat digunakan lagi.

    Metode ini adalah salah satu metode yang termasuk paling banyak diaplikasikan oleh perusahaan perusahaan di indonesia.

    Untuk penerapan “Matching Cost Principle”, metode penyusutan garis lurus digunakan untuk menyusutkan aset tetap yang fungsinya tak terpengaruh oleh besarnya volume output yang dihasilkannya.

    Contohnya: bangunan, peralatan kantor dll

    Metode Saldo Menurun [ Declining Balance Method ]

    Dalam Metode saldo menurun ini, aset tetap tetap diasumsikan memberikan manfaat terbesarnya pada periode awal masa penggunaan.

    Kemudian akan mengalami penurunan fungsi yang makin besar di periode-periode berikutnya seiring umur ekonomis aktiva tetap yang berkurang.

    Jadi semakin lama aktiva digunakan maka kontribusinya akan menurun.

    Metode saldo menurun ini cocok diaplikasikan pada aset tetap dimana tingkat ke-aus-annya bergantung dari volume output yang dihasilkan.

    Contohnya: mesin produksi.
    Contoh Penyusutan Metode Jumlah Angka Tahun

    Contoh Penyusutan Metode Jumlah Angka Tahun

    metode jumlah angka tahun
    Metode Jumlah Angka Tahun

    Penyusutan Metode Jumlah Angka Tahun | Sum of The Years Digit Method

    Pada dasarnya, Metode penyusutan aset tetap berdasarkan jumlah angka tahun mempunyai dasar konsep yang mirip dengan konsep metode penyusutan saldo menurun.

    Metode jumlah angka tahun merupakan penyusutan dipercepat berdasar pada pertimbangan biaya maintenance (perawatan) serta perbaikan aktiva tetap semakin lama cenderung bertambah seiring pertambahan usia aktiva tetap itu sendiri.

    Layaknya metode saldo menurun, semakin lama aset tetap beroperasi, maka tingkat aus-nya semakin tinggi.

    Butuh biaya pemeliharaan yang makin tinggi dengan kontribusi bagi perusahaan yang menurun, tidak se "joss" saat awal awal aset tetap tersebut di peroleh.

    Mesin contohnya, makin lama makin menurun performanya. tidak seperti awal awal mesin baru, mesin yang lebih lama cenderung menurun performanya.

    Nilai penyusutan yang berkurang pada periode berikutnya akan diimbangi oleh meningkatnya biaya maintenance dan juga perbaikan.

    Mesin tua kerjanya sudah tidak optimal, cepat rusak pula

    Dalam menentukan tarif penyusutan aset tetap dalam bentuk pecahan yang diitung dengan cara:
    • Pembilang (numerator) menggunakan angka tahun dimulai tahun yang terbesar ke tahun terkecil.
    • Penyebut (denumerator) adalah jumlah angka tahun.

    Contoh, jika umur ekonomis aset adalah selama 4 tahun maka penyebut bilangan (angka) pecahannya adalah jumlah angka tahun yaitu 1 + 2 + 3 + 4 = 10.

    Angka pembilang tahun ke-1 hingga tahun ke-4 masing-masing adalah 4,3,2, dan 1.

    Tarif penyusutan tahun ke-1 adalah 4/10, tahun ke-2 adalah 3/10, tahun ketiga 2/10 serta terakhir tahun keempat 1/10.

    Contoh soal penyusutan metode jumlah angka tahun


    Pada tanggal 2 Januari 2014, PT Foraz membeli sebuah mesin untuk meningkatkan produksinya.

    Harga perolehan Mesin Sebesar Rp 135.000.000,00 dengan taksiran nilai sisa (salvage value) sebesar Rp 15.000.000,00.

    Dan ditaksir, mesin tersebut hanya mampu berproduksi sampai dengan 4 tahun !

    Perhitungan:

    JAT (Jumlah Angka Tahun) : 1+2+3+4 = 10

    Dasar Penyusutan = Rp 135.000.000,00 - Rp 15.000.000,00
    = Rp 120.000.000,00

    Tahun           Tarif            Dasar Penyusutan                     Penyusutan
      1.                 4/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 48.000.000,00
      2                  3/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 36.000.000,00
      3                  2/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 24.000.000,00
      4                  1/10             Rp. 120.000.000,00                   Rp. 12.000.000,00

    Pencatatan:
         Jurnalnya sama saja dengan metode garis lurus ataupun saldo menurun.

    31 Desember 2014

    Debit | Depreciation Rp 48.000.000
    Kredit |
    Accumulated Depreciation
    Rp 48.000.000

    Untuk tahun berikutnya juga sama jurnalnya

    31 Desember 2015

    Debit | Depreciation Rp 36.000.000
    Kredit |
    Accumulated Depreciation
    Rp 36.000.000

    Begitupun dengan jurnal jurnal tahun berikutnya, sama. hanya angka yang berbeda :)
    tidak perlu saya tulis, nanti jadi panjang.. he he

    Mudah bukan?

    eh tunggu,.. bagaimana jika aset tetap yang diperoleh, tidak pada awal tahun?

    Pada contoh di atas tanggal 2 januari, bagaimana jika seandainya aset tetap diperoleh misalnya,  terjadi pada bulan 12 Agustus ?

    heh ?

    Ok, sebenarnya dasarnya sama saja, tapi pengerjaannya agak lebih lama sedikit.

    Pada tahun 2014, aset cuma digunakan selama 5 bulan saja.

    Perhitungan tarifnya tetap, hanya di bagi selama 5 bulan dari 12 bulan yang ada 

    Penyusutan tahun 2014 = 4/10 x 5/12 x  120.000.000
    = Rp 20.000.000

    Penyusutan tahun 2014 : 4/10 x 7/12 x 120.000.000 = Rp 28.000.000
    : 3/10 x 5/12 x 120.000.000 = Rp 15.000.000 (+)
    = Rp 43.000.000

    # Dari mana angka 7/12 ?

    # Dan mengapa tarif tahun 2015 masih menggunakan tarif tahun pertama (4/10)?

    Karena pada tahun pertama, tarif 4/10 hanya digunakan selama 5 bulan saja.

    Maka sisanya 7 bulan digunakan pada penyusutan tahun ke dua, dan setelah tahun kedua dihitung dengan tarif tahun pertama selama 7 bulan, (7/12)
    Maka sisa 5 bulan berikutnya menggunakan tarif tahun berikurnya (3/10)

    Begitu juga dengan tahun tahun berikutnya, pengerjaannya sama saja.

    Pencatatan jurnalnya pun juga sama saja, tapi hanya berbeda di angka penyusutannya yang dihasilkan.

    Notes:
          Metode Penyusutan Jumlah Angka Tahun ini jarang sekali digunakan, karena pertimbangan perpajakan, di sini, aturan perpajakan membatasi metode ini.
    Contoh Soal Penyusutan Metode Satuan Jam Kerja

    Contoh Soal Penyusutan Metode Satuan Jam Kerja


    penyusutan aset metode satuan jam kerja
    penyusutan metode satuan jam kerja

    Penyusutan Metode Satuan Jam Kerja | Service Hours Method

    Pada konsep dasarnya, pemikiran dasar dari penyusutan metode satuan jam kerja didasarkan pada pemikiran bahwa, berkurangnya nilai suatu aset disebabkan oleh berapa jam lamanya aset tersebut digunakan, atau dioperasikan oleh perusahaan selama umur ekonomisnya.

    Belum tentu aset tetap berkurang nilainya hanya karena "waktu".

    Jadi disini, metode ini berdasar bahwa berkurangnya suatu aset tetap perusahaan disebabkan oleh: MASA PAKAI.

    Bukan lama waktu aset tersebut saat tahun beroperasi.

    Contoh sederhananya, 2 buah motor yang umurnya sama, jenis dan spesifikasinya juga sama, tapi motor A selalu dipakai tiap hari, dan motor B seminggu sekali dipakai.

    Motor mana yang cepat rusak ?
    Motor mana yang butuh biaya maintenance lebih cepat dan lebih banyak ?

    Maka motor A itu akan cepat rusak atau paling tidak cepat membutuhkan biaya perawatan yang lebih dibandingkan dengan motor B yang jarang digunakan.

    Penyusutan motor A lebih besar daripada penyusutan motor B

    Analogi sederhana itu yang menjadi acuan untuk penyusutan moetode satuan jam kerja ini.

    Penyusutan aset tetap metode satuan jam kerja ini pada prakteknya sering kali di abaikan, karena alasan perpajakan.

    Jarang sekali digunakan !

    Rumus untuk menghitung besarnya penyusutan metode satuan jam kerja adalah sebagai berikut:

    penyusutan metode satuan jam kerja
    rumus tarif penyusutan per jam

    Sedangkan untuk menghitung besaran penyusutan per periode adalah sebagai berikut caranya:

    penyusutan metode satuan jam kerja
    beban penyusutan

    Contoh soal penyusutan metode satuan jam kerja

    Pada bulan Januari, PT Foraz membeli sebuah mesin dengan harga perolehan saat pembelian sebesar Rp 10.000.000,00

    Oleh ahli diperkirakan dapat berproduksi selama 10.000 jam dengan prediksi rentangan waktu penggunaan sebagai berikut :

    Tahun ke 1 = 3.000 jam
    Tahun ke 2 = 2.000 jam
    Tahun ke 3 = 2.000 jam
    Tahun ke 4 = 1.500 jam
    Tahun ke 5 = 1.500 jam

    Setelah berproduksi selama 10.000 jam, mesin tersebut diperkirakan masih bisa dijual dengan harga Rp. 500.000,00

    # Pertama kita hitung dulu tarif penyusutan mesin perjam

    Rp 10.000.000 -  Rp 500.000
    10.000
    Tarif Penyusutan = 950

    Ok, jika tarif penyusutan aset tetapnya sudah diketahui, kita selanjutnya bisa membuat tabel penyusutannya sebagai berikut:

    penyusutan metode satuan jam kerja
    tabel penyusutan metode satuan jam kerja

    Pada tabel penyusutan diatas, tampak bahwa menurut metode satuan jam kerja, beban penyusutan untuk tiap periode akuntansi bervariasi.

    Besarnya akan sebanding dengan jam kerja (kapasitas) aset tetap yang sesungguhnya dapat dicapai.

    Pencatatan akuntansinya, Jurnalnya sama saja dengan metode metode penyusutan aset tetap yang lain.

    Jurnal Penyusutan Tahun Pertama

    Debit | Depreciation Rp 2.850.000
    Kredit | Accumulated Depreciation Rp 2.850.000

    Untuk tahun berikutnya juga sama jurnalnya

    Jurnal Penyusutan Tahun ke-2

    Debit | Depreciation Rp 1.900.000
    Kredit | Accumulated Depreciation Rp 1.900.000

    Untuk penjurnalan tahun tahun berikutnya sama saja, tinggal diteruskan
    Demikian pembahasan mengenai penyusutan aset tetap metode satuan jam kerja.
    Penyusutan Metode Satuan Hasil Produksi

    Penyusutan Metode Satuan Hasil Produksi

    Penyusutan Metode Satuan Hasil Produksi | Productive Output Method

    Konsep Dasar

    Dalam penyusutan aktiva tetap dengan metode satuan hasil produksi, beban penyusutan ditetapkan berdasarkan jumlah output yang dihasilkan oleh sebuah aktiva pada periode berjalan.

    Dengan kata lain, beban penyusutan dihitung berdasrarkan satuan hasil produksi, sehingga beban penyusutan tiap periode akan berfluktuasi mengikuti jumlah produksi yang dihasilkan.

    Metode satuan hasil produksi mengalokasikan biaya penyusutan berdasar atas proporsi pemakaian aset tetap yang sebenarnya.

    Metode ini menggunakan hasil produksi sebagai dasar acuan dalam mengalokasi beban penyusutan aktiva untuk setiap periode akuntansi.

    Beban penyusutan dalam metode satuan hasil produksi diperlakukan sebagai beban variable sesuai dengan unit output yang dihasilkan aset tetap tiap periode.

    Jadi metode ini masuk kategori depresiasi berdasarkan faktor penggunaan.

    Metode ini memandang beban penyusutan sejalan dengan tingkat pemakaiannya. Idealnya, metode satuan hasil produksi diterapkan pada jenis aset tetap mesin produksi.

    # Analogi

    Supaya lebih mudah memahaminya. Misalnya terdapat 2 buah printer. Printer A sering digunakan dan printer B jarang digunakan.

    Setiap hari, mesin printer A mencetak hingga 10.000 lembar. Sedangkan printer B hanya mencetak 5000 lembar saja.

    Pertanyaannya. Printer yang mana yang lebih cepat penyusutannya? Yang lebih cepat kerusakannya? Yang lebih sering maintenancenya?

    Jawabannya pasti printer A.

    Namun, seringin dengan banyaknya penggunaan, printer printer tersebut akan menurun performance. Printer A tidak sanggup lagi jika harus mencetak 10.000 lembar perhari. Begitu juga printer B, lama kelamaan tidak akan sanggup mencetak 5.000 lembar perhari.

    Karena penggunaan terus menerus, printer akan mengalami penurunan performa. Jadi, kemungkinan setiap tahun printer tersebut tidak mampu memproduksi cetakan yang sama kuantitasnya. Dan penyusutan printer tersebut juga tidak sama besarnya.

    Sekali lagi karena penggunaan.

    Berikut asumsi asumsi penyusutan metode hasil produksi digunakan:
    • Nilai aset tetap menurun karena penggunaan, bukan karena faktor waktu
    • Kerusakan serta ke-aus-an fisik aset adalah faktor penting, sedangkan tingkat Ke-usang-an bukan hal penting, 
    • Biaya maintenance dan perbaikan sifatnya proporsional terhadap penggunaan,
    • Tingkat efesiensi operasi sifatnya proporsional terhadap pemakaian aset, contohnya bahan bakar yang jumlahnya berfluktuasi.
    • Pendapatan sifatnya proporsional terhadap penggunaan aset tetap
    Metode hasil produksi merupakan metode penyusutan yang mengalokasikan beban penyusutan ke beberapa periode berdasarkan pada satuan unit yang diperoleh dari penggunaan aset tetap.

    Umur ekonomis aset tetap dinyatakan dalam satuan unit produksi, bukan berdasarkan tahun.

    Tarif Penyusutan/Unit : (Harga Perolehan - Nilai Sisa) / Taksiran Jumlah Produksi

    Penyusutan : Produksi 1 tahun X Tarif Penyusutan/Unit

    Contoh Soal dan Jawaban Penyusutan Metode Hasil Produksi

    PT Foraz pada bulan januari 2014 membeli Sebuah mesin pabrik dengan harga perolehannya senilai Rp 125.000.000,00,- dan diprediksi memiliki masa manfaat hingga 5 tahun kedepan dengan nilai sisa/residu sebesar Rp 5.000.000,00,-

    Diperkirakan mesin tersebut bisa berproduksi dan menghasilkan jumlah unit sebagai berikut:
    • Tahun Ke-1 = 15.000 unit
    • Tahun Ke-2 = 13.500 unit
    • Tahun Ke-3 = 12.000 unit
    • Tahun Ke-4 = 11.500 unit
    • Tahun Ke-5 =   8.000 unit
    Pertama hitung taksiran jumlah produksi :

    Tahun ke 1
    =
    15.000 unit

    Tahun ke 2
    =
    13.500 unit

    Tahun ke 3
    =
    12.000 unit

    Tahun ke 4
    =
    11.000 unit

    Tahun ke 5
    =
    8.000 unit
    (+)
    Total
    =
    60.000 unit



    Tarif penyusutan per unit=125.000.000 - 5.000.000
                   60.000
    =2.000

    Tarif penyusutan sudah kita ketahui, kita bisa susun tabel penyusutan pertahunnya:

    Tabel Penyusutan Unit Produksi

    Saat pencatatan jurnalnya, sama saja dengan metode metode sebelumnya

    Jurnal penyusutan tahun 2014 :

    Debit | Depreciation Rp 30.000.000
    Kredit | Accumulated Depreciation Rp 30.000.000

    Untuk tahun berikutnya juga sama jurnalnya

    Jurnal penyusutan tahun 2015 :

    Debit | Depreciation Rp 27.000.000
    Kredit | Accumulated Depreciation Rp 27.000.000


    Untuk penjurnalan tahun tahun berikutnya sama saja, tinggal diteruskan.

    Apabila ada yang tidak jelas, ataupun kekeliruan silahkan tinggalkan pesan dibawah.