Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Museum : Pengertian, Sejarah, Fungsi, Jenis

Museum : Pengertian, Sejarah, Fungsi, Jenis

A. PENGERTIAN MUSEUM
Pengertian museum dapat jelaskan secara etimologis dan secara terminologis. Secara etimologis museum berasal dari bahasa Yunani klasik. Dalam bahasa Yunani Klasik museum berasal dari kata “Muze”. Muze merupakan kumpulan 9 dewi sebagai lambang dari ilmu dan kesenian. Berdasarkan arti dari kata tersebut maka museum dapat dijelaskan sebagai tempat yang gunakan untuk menyimpan benda-benda kuno (bersajarah) tujuan agar dapat dilihat dan pelajari lagi untuk menambah wawasan dan menjadi tempat berekreasi.
Pengertian Museum, Sejarah Museum, Fungsi Museum, Jenis Museum
MUSEUM
Secara terminologis museum dijelaskan oleh beberapa sumber ahli. Pengertian museum menurut secara terminologis adalah sebagai berikut:
1. A.C. Parker
A.C. Parker merupakan salah seorang ahli permuseuman Amerika. Beliau mengemukakan bahwa museum dalam pengertian modern adalah sebuah lembaga yang secara aktif menjelaskan dunia, manusia dan alam.

2. Douglas A. Allan
Menurut Douglas A. Allan museum merupakan sebuah gedung yang didalamnya menyimpan kumpulan benda-benda untuk penelitian studi dan kesenangan.

3. Advaced Dictionary
Pengertian museum dalam advanced dictionary adalah sebuah gedung yang didalamnya dpamerkan benda-benda yang memiliki nilai seni, sejarah, ilmu pengetahuan dan sebagainya.

Berdasarkan beberapa pengertian museum diatas maka dapat dijelaskan museum adalah suatu tempat atau lembaga yang mengumpulkan, menyimpan dan memamerkan benda-benda yang dapat menjadi sumber pengertahuan seperti sejarah, kesenian, ilmu alam dan lain-lain.

B. FUNGSI MUSEUM
Museum merupakan tempat yang sering dikunjungi oleh masyarakat, baik itu untuk study tour, penelitian maupun rekreasi. Sebenarnya museum juga keberadaannyaa sangat diperlukan. Seperti yang kita ketahui bahwa di museum terdapat benda-benda yang bisa memperluas wawasan kita. Namun ternyata fungsi museum tidak hanya sesederhana itu. Berdasarkan hasil musyawarah umum ke-11 International Council of Museum (ICOM) pada tahun 1974 di Denmark, dikemukakan 9 fungsi museum. Kesembilaan fungsi museum tersebut adalah sebagai berikut:
  • Pengumpulan dan pengamanan warisan alam dan bidaya
  • Dokumentasi dan penelitian ilmiah
  • Konservasi daan preservasi
  • Penyebaran dan perataan ilmu untuk umum
  • Pengenalan dan penghayatan kesenian
  • Visualisasi warisan alam dan budaya
  • Cerminan pertumbuhan peradaban umat manusia
  • Pembangkit rasa bersyukur dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

C. SEJARAH ADANYA MUSEUM
Untuk mengetahui bagaimana sejarah bagaimana bisa saat ini ada museum maka kita bias melihat kembali asal dari kata museum itu sendiri. Kalau pada pengertian tadi dijelaskan bahwa museum berasala dari kata “muze”, maka untuk lebih jelas lagi kali ini dijelaskan tentang Museion. Museion merupakan merupakan tempat tinggal Muze, yaitu 9 Dewi anak dari Zeus. Seiring dengan perkembangan zaman museion juga dikembangkan menjadi tempat kerja para ahli pada zaman Yunani Kuno. Contoh ahli yang bekerja di museion adalah Plato dan Phytagoras. Karena sudah merasa nyaman bera di Museion mereka menganggap tempat tersebut sebagai tempat penyelidikan, pendidikan filsafat, ruang ilmu dan kesenian.  Seiring berjalannya waktu, pengetahuan terus berkembang, hingga akhirnya dibangunlah Museum yang terdapat di Iskandarsyah. Museum ini merupakan museum tertua terkait dengan ilmu dan seni.

Pada mulanya gedung museum tersebut adalah tempat pengumpulan benda-benda dan alat untuk penyelidikan ilmu dan kesenian. Akan tetapi koleksinya terus bertambah hingga museum tersebut menjadi tempat mengumpulkan benda-benda yang dianggap unik dan aneh. Perkembangan terus terjadi hingga abad pertengahan. Pada masa itu para petinggi, pencipta seni dan ilmuwan menyimpan benda pribadinya di museum ini.

Perkembangan zaman menyebabkan hasil-hasil seni rupa terus bertambah baik dari dalam maupun maupun dari luar Eropa. Nah, ini lah yang menjadi cikal bakal pertumbuhan Museum yang ada di Eropa. Perubahan peradaban dan perkembangan membuat banyak Museum dibangun di berbagai belahan didunia begitu pula dengan di Indonesia.

D. KLASIFIKASI MACAM – MACAM JENIS MUSEUM
Museum tempat yang menyimpan banyak sumber pengetahuan. Setiap museum memiliki isi yang berbeda dengan museum lain. Isi dalam museum tersebut bergantung pada jenis museum itu sendiri. Untuk lebih mudah dibedakan, museum diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan beberapa hal. Klasifikasi dari jenis museum tersebut adalah sebagai beriikut:

1. Pengklasifikasian Museum berdasarkan tingkatan koleksinya
Tingkatan koleksi dapat menjadi tolak ukur dalam pengklasifikasian museum. Berdasarkan tingkatan koleksinya, museum dibagi menjadi 3 jenis. Adapun jenis museum berdasarkan tingkatan koleksinya adalah sebagai berikut:
a. Museum Nasional
Museum Nasional merupakan museum yang mempunyai tingkatan koleksi sesuai dengan kelas nasional atau dalam taraf nasional. Umumnya berisi berbagai benda yang berisi dari berbagai daerah disuatu Negara.

b. Museum Regional
Museum regional merupakan museum yang memiliki tingkatan koleksi tersebatas dan hanya dalam lingkup daerah regional. Umumnya koleksinya berasal dari daerah regional tempat museum tersebut berdiri.

c. Museum Lokal
Museum lokal merupakan museum yang memiliki tingkatan koleksi dalam taraf daerah saja. Benda yang dikoleksi dalam museum tersebut hanya terbatas pada warisan dan budaya yang terdapat pada daerah itu saja.

2. Pengkalsifikasian museum menurut International Council of Museum (ICOM)
Menurut International Council of Museum (ICOM) museum dapat diklasifikasikan menjadi 6 jenis. Adapu jenis-jenis museum terssebut adalah sebagai berikut:
a. Art Museum
Art museum atau museum seni merupakan museum yang mengelola, menyimpan dan mengumpul benda yang berkaitan dengan kesenian.

b. Arkeologi and History Museum
Arkeologi and History Museum merupakan museum didalamnya terdapat benda arkeologi dan benda bersejarah yang menyimpan tentang sejarah manusia berserta peradabannya.

c. National Museum
National Museum atau museum nasional umumnya menyimpan benda yang berasal dari berbagai wilayah dari Negara tempat museum itu berdiri.

d. Natural History Museum
Natural History Museum merupakan museum ilmu alam yang didalamnya terdapat hal-hal yang berkaitan dengan peradaban ilmu pengetahuan alam.

e. Science and Technology Museum
Science and Technology Museum adalah museum yang isinya berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

f. Specialized museum
Specialized museum atau museum khusus ini umumnya dikhususkan untuk satu benda khusus tertentu yang mukin berbeda dari kelima jenis museum sebelumnya

3. Pengklasifian Museum berasarkan penyelenggaraannya
Berdasakan penyelenggaraannya museum terbgi menjadi 2 jenis. Adapun jenis museum tersebut yaitu:
a. Museum pemerintah
Museum pemerintah merupakan museum yang diselengarakan dan dikelola oleh oleh pemerintah baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

b. Museum swasta
Museum swasta merupakan museum yang tidak diselenggarakan oleh pemerintah. Museum ini didirikan dan diselenggarakan oleh perseorangan namun tetap harus mendapatkan izin dari pemerintah.

4. Pengelompokkan meseum berdasarkan koleksi yang dimilikinya.
Berdasarkan koleksi yang dimilikinya museum terbagi menjadi 2 jenis yaitu:
a. Museum umum
Museum umum merupakan museum yang benda koleksinya berupa kumpulaan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan hal umum. Koleksi dalam museum ini dapat berbagai macam disiplin ilmu tidak mengkhususkan 1 cabang saja

b. Museum Khusus
Museum khusus adalah museum yang koleksinya berupa yang berkaitan dengan satu cabang ilmu pengetahuan, satu cabang teknologi dan lain. Dalam museum ini tidak terdapat koleksi diluar dari cabang pengetahuan, seni dan teknologi yang khususkan.
Masa Penjajahan Portugis di Indonesia

Masa Penjajahan Portugis di Indonesia

A. LATAR BELAKANG KEDATANGAN PORTUGIS
Sejak abad ke 7,  Indonesia telah menjadi salah satu pusat perdagangan dan jalur lintas perdagangan internasional. Hal ini dapat terjadi dikarenakan letak wilayah Indonesia yang secara geografis sangat strategis dan terbuka. Indonesia terletak diantara dua benua (Benua Asia dan Australia) dan dua samudera (Samudera Pasifik dan Hindia) sehingga Indonesia menjadi jembatan lalu lintas perdagangan internasional Asia-Eropa. Indonesia juga menjadi pemasok utama beberapa komoditas, terutama rempah-rempah.

Namun dampak negatif dari peran penting ini, wilayah Indonesia menjadi sangat rentan akan bahaya dan ancaman dari pihak asing serta mudah terpengaruh oleh budaya-budaya asing yang masuk dan tidak sesuai dengan kepribadian masyarakat Indonesia.
Masa Penjajahan Portugis di Indonesia
MASA PENJAJAHAN PORTUGIS DI INDONESIA
Pada tahun 1453, Konstantinopel yang merupakan pusat perdagangan Asia-Eropa dan tempat bergantungnya perekonomian banyak negara Eropa, jatuh ke tangan bangsa Turki Usmani. Padahal sebelum dikuasai bangsa Turki Usmani, Konstantinopel memiliki peran yang sangat penting dalam aktivitas perdagangan Asia-Eropa, diantaranya :
  • Sebagai pintu gerbang penghubung kegiatan perdagangan dan pelayaran Asia-Eropa.
  • Sebagai pengumpul, penyedia serta pemasok berbagai kebutuhan bangsa-bangsa Eropa terutama rempah-rempah yang sebagian besar dipasok oleh bangsa-bangsa Asia.
  • Sebagai pusat aktivitas perdagangan dimana berbagai bentuk hubungan kerjasama dapat terjadi antar berbagai pihak.

Namun sejak Konstantinopel dikuasai oleh bangsa Turki Usmani, bangsa-bangsa Eropa di persulit untuk bisa masuk ke Konstantinopel dengan berbagai peraturan-peraturan yang  diterapkan oleh pihak Turki Usmani, sehingga banyak bangsa-bangsa Eropa yang mengalami kemunduran ekonomi serta kesulitan mendapatkan pasokan berbagai bahan kebutuhan yang mereka perlukan terutama rempah-rempah. Akibat hal tersebut, beberapa bangsa Eropa seperti Portugis dan Spanyol yang mengalami krisis ekonomi paling parah memutuskan untuk melakukan ekspedisi samudera dengan tujuan untuk mendapatkan pasokan bahan-bahan kebutuhan mereka serta menguasai wilayah tersebut. Bangsa Portugis dan Spanyol yang ketika itu dikenal dengan pasukan dan armada lautnya yang tangguh, disebut sebagai pelopor ekspedisi samudera ke wilayah Asia, yang kemudian diikuti oleh beberapa bangsa Eropa lainnya seperti Inggris dan Belanda. Bangsa Portugis bersama rival tetangganya, bangsa Spanyol merupakan dua negara yang wilayahnya berbatasan langsung. Keduanya juga sama-sama tunduk pada vatikan sebagai induk yang menaungi agama mereka. Oleh karena kedua bangsa tersebut sama-sama ingin melakukan ekspedisi samudera, maka pada tahun 1494 vatikan mengusulkan perjanjian Thordesillas yang kemudian di setujui oleh kedua negara. Dalam perjanjian tersebut, vatikan membagi dua wilayah diluar Eropa yang boleh dikuasai oleh Portugis dan Spanyol. Perjanjian Throdesillas tersebut merupakan langkah awal mereka dalam melakukan ekspedisi samudera.

Pada tahun 1511, armada Portugis dibawah pimpinan Alfonso d’Alburqueque akhirnya  berhasil sampai di Indonesia. Potugis dengan memegang teguh tujuan utama mereka yaitu Feitoria, Fortaleza, dan Igreja atau dapat diartikan dengan 3G yaitu Gold(kekayaan) Glory (kejayaan),dan Gospel (penyebaran ajaran agama Kristen) langsung menerapkan berbagai strategi demi mewujudkan tujuan mereka. Hingga pada akhirnya Portugis berhasil merebut kekuasaan atas wilayah Malaka dan dengan leluasa mengatur segala aktivitas perdagangan di wilayah tersebut.

B. MASA KEJAYAAN PORTUGIS DI INDONESIA
Sejak tahun 1511 M sampai 1526 M Portugis berhasil mencapai masa kejayaannya di Indonesia. Mereka berhasil menguasai beberapa daerah di wilayah Maluku dan sekitarnya. Mereka memanfaatkan kekuasaan tersebut untuk melakukan berbagai kerjasama dengan wilayah lain di Indonesia dan berhasil memonopoli perdagangan di beberapa wilayah di nusantara. Selain itu, selama masa kejayaannya ini, keberadaan Portugis juga mampu mempengaruhi karakter masyarakat lokal, khususnya masyarakat Maluku. Mulai dari berkembangnya agama Kristen, sampai peninggalan beberapa benteng-benteng dan kesenian seperti balada keroncong merupakan akibat adanya pengaruh Portugis. Bahkan hingga kini beberapa kosakata khas Portugis masih terpakai di daerah Maluku dan sekitarnya, tidak heran banyak masyarakat di daerah tersebut banyak yang memiliki nama “berbau” Portugis.
Masa Penjajahan Portugis di Indonesia
MASA PENJAJAHAN PORTUGIS DI INDONESIA
C. PERLAWANAN RAKYAT TERHADAP PORTUGIS
Sejak berhasil menguasai Malaka, Portugis terus berusaha untuk melakukan ekspansi kekuasaan ke berbagai wilayah lalin di nusantara. Namun usaha tersebut mendapatkan perlawananan dari rakyat wilayah setempat. Berbagai perlawanan rakyat Indonesia terhadap Portugis diantaranya :

a. Perlawanan Rakyat Aceh
Pada tahun 1511, Portugis mampu mengalahkan salah satu kerajaan yang memegang peranan penting di kawasan Selat Malaka yaitu Samudera Pasai. Namun setelah peristiwa tersebut Portugis tidak semata-mata dengan mudah dapat menguasai kawasan Selat Malaka karena mereka mendapat perlawanan dari Aceh Darussalam, yang merupakan salah satu kerajaan besar lainnya yang menguasai kawasan Selat Malaka. Aceh Darusslam di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528), Sultan Alaudin Riayat Syah (1537-1568) dan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) berhasil menentang serta mengusir Portugis yang berusaha mengusik kekuasaan mereka.

b. Perlawanan Rakyat Maluku
Setelah beberapa lama Portugis berkuasa di daerah Maluku, rakyat Maluku semakin miskin dan menderita. Rakyat Maluku yang mulai sadar akan keserakahan Portugis akhirnya melawan dengan membakar salah satu benteng yang di bangun oleh Portugis. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1533. Perlawanan ini sempat berujung perdamaian dan Portugis tetap berhasil menjaga kekuasaannya di wilayah Maluku. Hingga pada tahun 1570 perlawanan kembali terjadi dan pada tahun 1577 barulah rakyat Maluku berhasil mengusir Portugis dari wilayahnya.
Kerajaan Demak : Pengertian, Sejarah, Kehidupan, Peninggalan

Kerajaan Demak : Pengertian, Sejarah, Kehidupan, Peninggalan

A. LETAK KERAJAAN DEMAK
Kerajaan Demak yang didirikan pada tahun 1475 M merupakan kerajaan Islam pertama sekaligus yang terbesar yang terdapat di pulau Jawa.  Kerajaan Demak terletak pada lokasi yang sangat strategis sehingga memiliki pengaruh yang cukup signifikan di wilayah nusantara pada saat itu. Kerajaan ini terletak di tepi laut, spesifiknya di antara pelabuhan Bergota (pada masa itu merupakan pelabuhan dari kerajaan Mataram Kuno dan Jepara) sehingga menjadi tempat persinggahan kapal-kapal dagang dari berbagai wilayah. Selain karena posisi yang strategis ini, kerajaan Demak pada masa itu juga memiliki daerah pertanian yang cukup luas sehingga mampu menjadikan kerajaan ini sebagai salah satu kerajaan yang memiliki peranan besar dalam aktivitas perekonomian antar pulau.
Pengertian, Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Demak
KERAJAAN DEMAK
B. AWAL BERDIRI DAN SILSILAH KERAJAAN DEMAK
Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah pada tahun 1475 M. Sebelum menjadi sebuah kerajaan, Demak sebenarnya merupakan bagian dari kerajaan Majapahit, yaitu sebagai sebuah Kadipaten dengan Raden Patah sebagai Adipatinya. Namun, pada masa dimana kerajaan Majapahit mengalami kemunduran, Demak yang dipimpin oleh Raden Patah dibantu para pengikutnya mulai memberontak dan perlahan memisahkan diri dari kerajaan Majapahit, dengan puncaknya terjadi ketika Demak menyerang Majapahit dan kemudian berdirilah Kerajaan Demak dengan Raden Patah sebagai raja pertama. Raden Patah yang juga dikenal dengan nama Penambahan Timbun berhasil memimpin kerajaan Demak menjadi salah satu kerajaan terbesar di pulau Jawa setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Namun pada tahun 1507 M Raden Patah turun tahta dan digantikan oleh putranya yaitu Pati Unus yang memimpin kerajaan Demak hingga tahun 1521 M sebelum beliau wafat dan digantikan oleh adiknya yang bernama Sultan Trenggana, dimana pada masa kepemimpinan Sultan Trenggana inilah kerajaan Demak berhasil mencapai puncak kejayaannya. Pada masa tersebut kerajaan Demak berhasil menguasai Banten, Sunda Kelapa (Jayakarta) dan Cirebon. Selain itu, mereka juga berhasil menyerang Portugis dan mematahkan hubungan Portugis dengan beberapa kerajaan, sehingga semua kerajaan di wilayah pantai utara Jawa tunduk pada Kerajaan Demak. Kerajaan Demak juga berperan penting dalam penyebaran syiar Islam pada masa itu. Dengan dukungan para Wali Songo mereka berhasil menjadi pusat penyebaran syiar Islam pada masa itu. Namun setelah Sultan Trenggana wafat pada tahun 1546, kerajaan Demak mulai diterpa konflik internal. Terjadi perebutan kekuasaan di antara sesama anggota keluarga kerajaan. Putra tertua Sultan Trenggana yaitu Sunan Prawata yang seharusnya menjadi ahli waris, dibunuh oleh Arya Penangsang yang kala itu menjadi Bupati Jipang, dan setelah itu ia menguasai tahta kerajaan Demak. Namun kemudian pangeran Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yang didukung oleh keluarga kerajaan yang tidak setuju atas tahta kerajaan yang dipegang oleh Arya Penangsang berhasil mengalahkan Arya Penangsang, sehingga berpindahlah tahta kerajaan Demak ke tangan Jaka Tingkir. Sejak saat itu, ibukota kerajaan Demak yang berada di Bintoro dipindahkan ke  wilayah Pajang.

C. KEHIDUPAN MASYARAKAT DAN PENINGGALAN KERAJAAN DEMAK
Pada masa keemasannya, kerajaan Demak menjadi salah satu wilayah yang menjadi pusat perekonomian di tanah air terutama dalam hal perdaganngan maritim. Banyak kapal-kapal barang yang membawa berbagai komoditas berlabuh di wilayah tersebut, keuntungan ini mampu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh kerajaan Demak. Selain dari segi perdagangan maritim, wilayah kerajaan Demak juga memiliki lahan pertanian yang sangat luas sehingga mereka mampu menghasilkan berbagai jenis bahan makanan. Dari segi kehidupan sosial budaya, masyarakat Demak juga memiliki kehidupan yang sangat baik dan teratur. Dengan kehadiran para Wali Songo, mereka mampu menerapkan hukum syariat Islam dengan baik sebagai pedoman kehidupan mereka. Masjid Agung Demak yang merupakan lambang kebesaran kerajaan Demak merupakan peninggalan sejarah sekaligus bukti bagaimana kokohnya syariat Islam di kerajaan Demak. Selain Masjid Agung Demak, berikut beberapa peninggalan sejarah dari kerajaan Demak :
1. Masjid Agung Demak
Masjid ini dibangun oleh para Wali Songo pada tahun 1479 dan masih beridiri dengan kokoh hingga saat ini. Selain menjadi lambang kebesaran kerajaan pada masa itu, berbagai filosofis dan keunikan arsitektur yang terdapat di dalam Masjid Agung Demak ini juga merupakan salah satu bukti bagaimana kerajaan Demak menjadi pusat penyebaran dan perkembangan agama Islam di Jawa pada masa itu.

2. Bedug dan Kentongan
Kedua alat ini juga merupakan peninggalan yang bersejarah dari kerajaan Demak. Pada masanya, bedug dan kentongan ini dipakai oleh masyarakat kerajaan Demak untuk memanggil orang-orang agar segera beranjak ke masjid untuk melaksanakan shalat 5 waktu setelah dikumandangkannya adzan.

3. Dampar Kencana
Dampar Kencana awalnya merupakan tempat singgasana para raja pada masa itu. Namun kemudian Dampar Kencana ini dipindahkan ke masjid Agung Demak dan dialih fungsikan menjadi mimbar khatib. Damapar Kencana ini masih ada dan terawat rapi hingga saat ini di dalam Masjid Agung Demak.

4. Piring Campa.
Piring Campa adalah piring pemberian dari ibu Raden Patah yang merupakan seorang putri dari Campa. Piring yang berjumlah 65 buah ini, hingga saat ini terpajang sebagai hiasan di dinding Masjid Agung Demak.
Masa Pra Sejarah di Indonesia

Masa Pra Sejarah di Indonesia

Masa pra sejarah merupakan suatu periode dalam sejarah kehidupan manusia dimana belum dikenalnya tulisan atau aksara. Masa ini juga dikenal dengan sebutan zaman nirleka yang berarti zaman tanpa aksara. Zaman ini ditandai dengan masa kehidupan manusia yang masih menggunakan tradisi lisan (oral tradition) untuk merekam dan mewariskan masa lalunya karena belum mengenal dan juga  cara hidup yang masih primitif dalam segala aspek kehidupan. Namun seiring berjalannya waktu, kehidupan manusia yang terdiri dari beragam bangsa dan kelompok  terus mengalami kemajuan dan perkembangan dalam segala hal. Proses kemajuan dan perkembangan kehidupan setiap bangsa terjadi secara bervariasi dan berbeda-beda, oleh karena itu zaman pra sejarah setiap bangsa terjadi selama kurun waktu yang berbeda-beda pula. Sebagai contoh, bangsa Mesir Kuno diperkirakan oleh para ahli meninggalkan masa pra sejarah dan memasuki zaman sejarah pada 4000 SM, sementara bangsa Indonesia baru meninggalkan masa pra sejarah sekitar 300 M. Hal ini dapat terjadi akibat karena proses perkembangan dan kemajuan peradaban seiap bangsa yang berbeda-beda.
Masa Prasejarah di Indonesia
MASA PRASEJARAH DI INDONESIA
1. Perkembangan Kehidupan Masa Pra Sejarah di Indonesia 
Perkembangan kehidupan masyarakat pra sejarah di Indonesia secara garis besar dapat dibedakan menjadi tiga masa, dimana pada awal periode di awali dengan masa ketika manusia masih hidup secara nomadendan hanya sekedar berburu/mengumpulkan makanan (food gathering). Pada masa ini, mereka masih hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Mereka hidup dengan cara berburu untuk mengumpulkan makanannya dan hanya bergantung pada hasil alam. Karena itu mereka tidak pernah tinggal menetap, mereka mencari tempat tinggal yang dapat memenuhi kebutuhan mereka, dan ketika lingkungan tersebut sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan mereka lagi, mereka akan mencari tempat tinggal baru. Alat yang digunakan pada masa ini merupakan alat-alat sederhana yang terbuat dari batu, seperti kapak genggam yang dapat mendukung kegiatan berburu mereka.

Kemudian seiring berjalannya waktu, kehidupan masyarakat zaman pra sejarah pada masa itu pun semakin berkembang dan beralih ke masa dimana masyarakat mulai menemukan cara untuk menghasilkan makanannya sendiri (food producing). Pengetahuan dan pola pikir yang semakin berkembang membuat mereka lebih mengenal dan memahami kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Pada saat itu mereka mulai bercocok tanam sebagai cara untuk menghasilkan makanannya sendiri selain dari berburu. Mereka banyak menanam tanaman jenis umbi-umbian dengan sistem ladang berpindah, yaitu mereka bergantung dengan kondisi kesuburan tanah dan curah hujan lingkungan tersebut, apabila lingkungan yang dijadikan lokasi bercocok tanam kurang menghasilkan maka mereka akan mencari lahan lain untuk bercocok tanam. Pada masa ini mereka mulai bisa mengontrol kebutuhan makanan mereka sehinga mereka mulai bisa tinggal menetap. Selain itu peralatan yang digunakan pada masa ini juga semakin canggih dan bervariasi seperti gerabah yang dibuat dari tanah liat yang dibakar, serta terdapat beberapa perhiasan yang terbuat dari batu dan kayu.  

Setelah masa food producing, masyarakat pada masa itu mulai memasuki masa perundagian. Pada masa ini, mulai muncul banyak jenis pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tertentu, contohnya bidang pembuatan rumah, pengolahan berbagai jenis logam dan perhiasan. Pada masyarakat di masa tersebut dikenal istilah undagi yaitu orang memiliki keterampilkan dalam pekerjaan tertentu. dampak dari hal ini, kehidupan masyarakat pada masa itu mengalami perkembangan yang pesat terutama dalam bidang teknologi. hal ini terlihat dari banyaknya hal-hal baru yang ditemukan dan semakin canggihnya peralatan sehari-hari yang digunakan. Beberapa peninggalan pada masa itu antara lain seperti neraka dan kapak corong yang terbuat dari perunggu serta beberapa peninggalan bangunan seperti menhir (sejenis tugu dari batu) dan punden berundak (bangunan menyerupai tangga dari batu).

2. Kepercayaan Masyarakat Masa Pra Sejarah
Seiring berkembangnya pola kehidupan masyarakat pada zaman pra sejarah, muncul pula berbagai pola pikir yang meyakini adanya kekuatan lain dari luar diri mereka.Terdapat berbagai macam kegiatan spiritual yang dilakukan oleh masyarakat pada masa itu. Secara garis besar sistem kepercayaan masyarakat pada zaman pra sejarah dapat dibagi kedalam beberapa kelompok diantaranya :

a. Animisme
Yaitu kepercayaan terhadap roh nenek moyang yang masih dapat mempengaruhi kehidupan di dunia. Mereka percaya bahwa roh-roh tersebut dapat mendiami berbagai jenis objek seperti batu, pohon dan sebagainya. Mereka juga melakukan berbagai kegiatan spiritual seperti memberikan sesajian atau kegiatan penghormatan lainnya terhadap roh-roh tersebut.

b. Dinamisme
Jika animisme merupakan kepercayaan terhadap roh, maka dinamisme merupakan kepercayaan terhadap kekuatan gaib. Masyarakat pada asa itu percaya bahwa segala sesuatu mempunyai kekuatan gaib yang dapat mempengaruhi keberhasilan maupun kegagalan mereka dalam kehidupan. Kegiatan spiritualnya pun tidak jauh berbeda dengan kepercayaan animisme, mereka melakukan berbagai ritual untuk menghomati segala objek yang mereka anggap keramat.

c. Totenisme
Merupakan kepercayaan terhadap beberapa hewan tertentu seperti ular, harimau, sapi dan sebagainya yang dianggap suci dan memiliki kekuatan gaib sehingga pantas untuk mereka puja. Pada masa itu, mereka membangun berbagai jenis bangunan dan peti-peti mayat khusus untuk melakukan kegiatan atau ritual penghormatan teradap kepercayaannya.
Dekrit Presiden 05 Juli 1959 : Pengertian, Isi, Dampak

Dekrit Presiden 05 Juli 1959 : Pengertian, Isi, Dampak

A. PENGERTIANDEKRIT PRESIDEN 05 JULI 1959
Dekrit yang berasal dari bahasa Latin decernere yang berarti mengakhiri, memutuskan, atau menentukan, merupakan sebuah perintah yang dikeluarkan oleh pemimpin suatu negara dalam keadaan-keadaan tertentu seperti pada keadaan darurat yang memiliki kekuatan hukum tetap.

Dekret (perintah) 05 Juli 1959 ialah perintah yang dikeluarkan oleh presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno yang isinya ialah membubarkan Badan Konstituantee hasil pemilu 1955 dan penggantian Undang-Undang Dasar dari UUD Sementara 1950 ke UUD 1945.

B. LATAR BELAKANG DEKRIT PRESIDEN 05 JULI 1959
Pada pemilu pertama tahun 1955, rakyat Indonesia selain memilih anggota parlemen (Dewan Perwakilan Rakyat) juga diharuskan memilih anggota Badan Konstituante yang bertugas untuk menyusun Undang-Undang Dasar negara Republik Indonesia.
Dekrit Presiden 5 Juli 1959
DEKRIT PRESIDEN 1959
Badan Konstituante memulai persidangannya pada tanggal 20 November 1956 dengan pidato pembukaan dari presiden Soekarno. Hingga sampai tahun 1959, Badan Konstituante tidak pernah berhasil merumuskan undang-undang dasar yang baru.

Pada saat itu, pertentangan antar anggota partai politik besar seperti PNI, PKI, Masyumi seringkali terjadi. Situasi dalam negeri Indonesia menjadi tidak stabil dan di daerah-daerah pun mulai bermunculan berbagai dewan, seperti Dewan Manguni di Sulawesi Utara, Dewan Gajah di Sumatera Utara, Dewan Banteng di Sumatera Tengah, Dewan Garuda di Sumatera Selatan, dan Dewan Lambung Mangkurat di Kalimantan Selatan yang kemudian berkembang menjadi gerakan-gerakan yang ingin memisahkan diri dari Indonesia.

Karena keadaan yang sangat tidak stabil tersebut, Letnan Jenderal A.H.Nasution yang bertindak sebagai Kepala Staf Angkatan Darat mengeluarkan larangan bagi semua kegiatan politik terhitung semenjak tanggal 3 Juni 1959. Partai Nasional Indonesia (PNI) melalui ketuanya, Soewirjo mengirimkan surat kepada presiden Soekarno yang saat itu tengah berada di Jepang. Surat itu berisi saran agar presiden Soekarno mendekritkan kembali penggunaan UUD 1945 dan membubarkan Badan Konstituante. Selain itu, Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui ketuanya D.N.Aidit mengeluarkan perintah kepada para anggotanya agar tidak mengikuti sidang-sidang selain sidang Badan Konstituante.

Kegagalan Badan Konstituante merumuskan Undang-Undang baru sebagai pengganti Undang-Undang Dasar Sementara 1950 yang bersistem demokrasi liberal yang dianggap tidak sesuai dengan falsafah hidup bangsa Indonesia, menimbulkan kecacatan dalam melaksanakan tugas pemerintahan karena tidak ada dasar hukumnya.

Atas dasar tersebut, Soekarno menyampaikan amanatnya pada sidang Badan Konstituante pada tanggal 22 April 1959 yang menganjurkan agar kembali ke UUD 1945. Kemudian, pada tanggal 30 Mei 1959, Badan Konstituante pun mengadakan pemungutan suara (voting) untuk menanggapi usulan presiden Soekarno tersebut.

Hasil pemungutan suara tersebut menunjukkan hasil bahwasanya mayoritas anggota Badan Konstitaunte menginginkan agar kembalinya UUD 1945 sebagai pengganti UUDS 1950. Namun, jumlah suara yang terhitung pada pemungutan suara itu tidak memenuhi kuorum 2/3 jumlah anggota (jumlah minimal anggota yang hadir saat sidang) yang telah diamanahkan pada pasal 137 UUDS 1950. Pemungutan suara pun dilakukan untuk kedua kalinya pada tanggal 2 Juni 1959. Pemungutan suara inipun tidak memenuhi kurorum anggota yang hadir. Lalu, pada tanggal 3 Juni 1959, Badan Konstituante mengumumkan masa reses (istirahat).

Selanjutnya, pada tanggal 05 Juli 1959, presiden Soekarno akhirnya mengeluarkan dekrit presiden yang berisi poin-poin sebagai berikut :
  1. Pembubaran Konstituante
  2. Berlakunya kembali UUD 1945
  3. Tidak berlakunya lagi UUDS 1950
  4. Pembentukan MPRS dan DPAS
Dekrit presiden ini mendapat sambutan hangat dari seluruh rakyat Indonesia. Letjen A.H.Nasution selaku kepala staf angkatan darat pun memerintahkan para anggotanya untuk mengamankan dekrit presiden tersebut.

 C. ISI DEKRIT PRESIDEN 05 JULI 1959
Isi Dekrit Presiden 1959
ISI DEKRIT PRESIDEN
D. PENGARUH DEKRIT PRESIDEN 05 JULI 1959
Dengan dikeluarkannya dekrit presiden 05 Juli 1959, maka Negara Indonesia memiliki suatu dasar hukum untuk melaksanakan segala bentuk kegiatan pemerintahan. Dengan dekrit ini pula, bangsa Indonesia terselamatkan dari perpecahan dan kehancuran.
Sebagai tindak lanjut dari dekrit presiden ini, maka dibentuklah beberapa lembaga negara, diantaranya Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS), dan Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong (DPR-GR). Setelah itu, presiden Soekarno tanggal 17 Agustus 1959 berpidato dengan judul “Penemuan Kembali Revolusi Kita”. Pidato yang terkenal dengan sebutan Manifesto Politik Republik Indonesia (Manipol) ini oleh DPAS dan MPRS dijadikan sebagai Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).
Adapaun inti dari pidato Manipol presiden Soekarno ialah :
  1. Undang-Undang Dasar 1945
  2. Demokrasi Terpimpin
  3. Ekonomi Terpimpin
  4. Sosialisme Indonesia
  5. Kepribadian Indonesia
Dengan demikian, dengan dikeluarkannya dekrit ini, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan rakyat Indonesia, baik dalam segi politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dalam bidang politik, segala kegiatan politik harus berlandaskan NASAKOM (nasionalis, agamis, komunis). Dalam bidang ekonomi, pemerintah menerapkan sistem ekonomi terpimpin terutaam dalam bidang impor. Sedangkan dalam bidang sosial budaya, pemerintah melarang hal-hal yang berbau ke-Barat-an karena dianggap sebagai bentuk penjajahan gaya baru ) neo-imperialisme).

E. DAMPAK DEKRIT PRESIDEN 05 JULI 1959
1. Dampak Positif
  • Menyelamatkan Indonesia dari perpecahan dan krisis politik berkepanjangan
  • Memberikan pedoman yang jelas bagi bangsa Indonesia
  • Merintis pembentukan lembaga tinggi negara seperti MPRS dan DPAS
2. Dampak Negatif
  • Memberikan peluang bagi militer untuk terjun ke dunia politik, apalagi angkatan darat saat itu menjadi kekuatan politik yang disegani
  • UUD 1945 tidak dilaksanakan secara menyeluruh dan konsekuen
  • Dengan diterapkannya demokrasi terpimpin, maka memberikan kekuasaan yang besar kepada presiden dan lembaga tinggi negara yang lainnya.
Sejarah Kerajaan Singasari di Indonesia

Sejarah Kerajaan Singasari di Indonesia

A. LETAK KERAJAAN SINGASARI
Kerajaan Singasari didirikan pada tahun 1222 M oleh Ken Arok, dan beribukota di sebuah kota bernama Tumapel tepatnya berada di kawasan yang bernama Kutaraja. Saat ini, diperkirakan kerajaan ini berada di Singosari, Malang, Jawa Timur. Sebelumnya, wilayah Tumapel berada di bawah kekuasaan kerajaan Kediri dengan dipimpin oleh seorang bupati bernama Tunggul Ametung.

Sebenarnya, nama resmi kerajaan Singasari ialah kerajaan Tumapel. Hal ini dapat dilihat dalam prasasti Kudadu. Dalam kitab Negarakertagama, ibukota kerajaan Tumapel terletak di Kutaraja. Pada tahun 1253, raja Wisnudharma mengangkat anaknya yang bernama Kertanegara menjadi yuwaraja dan mengganti nama ibukota menjadi Singhasari. Kemudian, nama Singhasari lebih terkenal daripada nama Tumapel itu sendiri.
Sejarah Kerajaan Singasari di Indonesia
SEJARAH KERAJAAN SINGASARI DI INDONESIA
B. AWAL BERDIRINYA KERAJAAN SINGASARI
Oleh karena dulunya Tumapel merupakan bagian dari kerajaan Kediri yang dipimpin oleh seorang Akuwu (setingkat camat) bernama Tunggul Ametung). Oleh Ken Arok yang juga merupakan ajudan atau pengawal pribadinya, dibunuhlah bupati Tunggul Ametung tersebut, dikarenakan Ken Arok terpikat akan kecantikan istri Tunggul Ametung yang bernama Ken Dedes dan ingin menjadikannya istri. Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dengan sebilah keris yang belum sempurna dibuat oleh Mpu Gandring.

Karena ketidaksabaran Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung dan memperistrikan Ken Dedes, maka keris yang sedang dibuat oleh Mpu Gandring direbut olehnya, dan Mpu Gandring juga kemudian dibunuh oleh Ken Arok. Sebelum meninggal, Mpu Gandring mengeluarkan kutukan bahwasanya keris itu akan membunuh Ken Arok sampai tujuh turunan dibawahnya.

Ken Arok kemudian berniat untuk melepaskan Tumapel dari kerajaan Kediri. Pada tahun 1254, terjadi perseteruan antara kaum Brahmana dengan kaum Kertajaya dari kerajaan Kediri. Para kaum Brahmana menggabungkan kekuatan dengan kelompok Ken Arok yang sebelumnya telah mendeklarasikan berdirinya kerajaan Tumapel dengan ia sendiri sebagai rajanya dengan gelar Sri Rajasa Sang Amurwhabumi. Perang ini terjadi di desa Ganter dan kemudian dimenangkan oleh pihak Ken Arok.

C. SILSILAH KERAJAAN SINGOSARI
Terdapat dua versi yang menyebutkan silsilah raja-raja kerajaan Singasari. Yang pertama bersumber dari prasasti Kudadu yang merupakan versi dari Pararaton. Berikut adalah versi Pararaton tersebut :
1. Ken Arok (1222-1227 M)
Ken Arok merupakan raja pertama dari kerajaan Singasari dan sekaligus merupakan pendiri kerajaan Singosari ini. Ia memerintah dari tahun 1222-1227 M. munculnya Ken Arok sebagai raja menandai dimulainya suatu dinasti yang bernama Rajasawangsa atau Girindrawangsa.  Pada tahun 1227, Ken Arok dibunuh oleh seorang suruhan Anusapati yang merupakan anak tiri Ken Arok. Ken Arok dimakamkan di Kegenengan dalam bangunan Siwa-Buddha.

2. Anusapati (1227-1248 M)
Dengan jangka waktu kekuasaan yang lama, Anusapati tidak banyak membuat perubahan-perubahan yang mengesankan dalam kerajaan Singasari oleh karena ia larut dalam hobinya menyabung ayam. Suatu ketika, peristiwa kematian Ken Arok yang dibunuh oleh Anusapati diketahui oleh Tohjoyo, ia adalah anak kandung Ken Arok dengan Ken Umang.

Mengetahui hal tersebut, kemudian Tohjoyo mengundang Anusapati ke kediamannya Gedong Jiwa untuk mengadakan pesta sabung ayam. Pada saat Anusapati sedang asyik melihat ayam aduannya, Tohjoyo kemudian menarik keris buatan Mpu Gandrung yang dibawa oleh Anusapati dan menusuk Anusapati sampai meninggal. Anusapati kemudian dimakamkan di Candi Kidal.

3. Tohjoyo (1248 M)
Tohjoyo tidak lama memimpin kerajaan Singasari oleh karena anak dari Anusapati yaitu Ranggawuni berusaha untuk membalas kematian ayahnya dengan bekerja sama dengan Mahesa Cempaka dan para pengikutnya. Ranggawuni kemudian berhasil membunuh dan menggulingkan Tohjoyo dan kemudian ia naik tahta.

4. Ranggawuni (1248-1268 M)
Ranggawuni naik tahta dan dbieri gelar dengan sebutan Sri Jaya Wisnuwardhana dan sekutunya Mahesa Cempaka diberi kedudukan sebagai ratu angabhaya dengan gelar Narasinghamurti. Pemerintahan Ranggawuni membawa kesejahteraan dan ketentraman kepada rakyat kerajaan Singasari.

Pada tahun 1254 M, Ranggawuni mengangkat anaknya yang bernama Kertanegara menjadi yuwaraja (raja muda) guna mempersiapkannya menjadi raja Singasari di kemudian hari. Pada tahun 1268, Ranggawuni meninggal dunia dan dikebumikan di Candi Jago.

5. Kertanegara (1268-1292 M)
Kertanegara merupakan raja terbesar dan terakhir daripada kerajaan Singasari. Ia naik tahta pada tahun 1268 M dengan gelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Dalam pemerintahannya, ia dibantu oleh tiga orang mahamentri, yaitu mahamentri I hino, mahamentri I Halu, dan mahamentri I Sirikan.

Pada masa pemerintahan Kertanegara, kerajaan Singasari menuai masa kegemilangannya dengan turut menaklukkan daerah-daerah lain di nusantara. Untuk mewujudkan keinginanya menyatukan nusantara, Kertanegara banyak menggantikan pejabat-pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti Patih Raganata diganti oleh Patih Aragani.

Kertanegara menirimkan utusan ke Melayu atau yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu 1275 yang dipimpin oleh Adityawarman dan berhasil menguasai kerajaan melayu. Selain menguasai melayu, pada masa pemerintahan Kertanegara, ia juga mampu menaklukkan Pahang, Sunda, Bali, Bakulapura (Kalimantan Barat), dan Gurun (Maluku).

Ini ialah silsilah raja-raja versi Pararaton yang dikutip dari prasasti Kudadu. Sedangkan dalam versi Negarakertagama yang dikutip dari prasasti Mula Manurung, raja-raja di kerajaan Singasari terdiri dari Rangga Rajasa Sang Girinathaputra (1222-1227 M), Anusapati (1228 M), Wisnuwardhana (1248-1254 M), dan terakhir adalah Kertanagara (1254-1292 M).

D. RUNTUHNYA KERAJAAN SINGASARI
Ambisi raja Kertanagara untuk menguasai seluruh kerajaan di nusantara akhirnya sampai kepada akhir dari perjalannya. Saat itu, Kertanagara melakukan kerjasama dengan raja Campa dengan tujuan untuk menahan perlebaran kekuasaan yang dilakukan oleh Kubilai Khan dari Dinasti Mongol. Kubilai Khan menuntut raja-raja di daerah selatan termasuk Indonesia untuk mengakui dirinya sebagai yang dipertuan (tunduk patuh pada Dinasti Mongol). Kertanagara tidak menerima hal tersebut, dan ia melukai muka utusan yang dikirim oleh Kubilai Khan yang bernama Meng Chi.

Mendengar hal tersebut, Kubilai Khan murka dan ingin menyerang kerajaan Singasari. Mendengar hal ini, Jayakatwang selaku raja kerajaan Kediri atas usulan dari Aria Wiraraja yang menjabat sebagai Adipati Sumenep (penentang politik Kertanagara) menggunakan kesempatan ini untuk menyerang kerajaan Singasari, karena sebagian besar tentara kerajaan Singasari juga sedang dikirim untuk ekspedisi pamalayu. Serangan pun dilancarkan oleh kedua arah, yaitu dari arah utara selaku pancingan dan dari arah selatan yang merupakan pasukan inti.

Pasukan Kediri di arah utara dipimpin oleh Jaran Guyang, sedangkan Kertanagara mengutus Raden Wijaya dan Ardharaja untuk menangani pasukan tersebut. Pasukan dari kerajaan Kediri berhasil dikalahkan. Sedangkan dari arah timur, pasukan Kediri dipimpin oleh Patih Mahisa Mundarang dan berhasil memasuki istana dan menemukan Kertanagara sedang berpesta dengan para pembesar istana. Akhirnya, Kertanagara beserta para pembesar istana tewas dalam penyerangan tersebut. Ardharaja yang merupakan menantu Kertanagara dan anak dari jayakatwang berbalik memihak kepada ayahnya. Raden Wijaya melarikan diri ke Madura dan meminta perlindungan kepada Aria Wiraraja.

Aria Wiraraja mengampuni Raden Wijaya dan ia pun diberikan sebidang tanah yang bernama Tanah Tarik untuk ditempati. Dengan meninggalnya Kertanegara, maka berakhirlah dinasti kerajaan Singasari. Kertanegara dimakamkan di Candi Singasari.
Sejarah Kerajaan Singasari di Indonesia
SEJARAH KERAJAAN SINGASARI DI INDONESIA
E. KEHIDUPAN MASYARAKAT KERAJAAN SINGASARI
1. Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial masyarakat kerajaan Singasari mengalami naik turun tergantung dengan raja yang memerintah. Pada masa pemerintahan Ken Arok, masyarakat kerajaan SIngasari perlahan-lahan mengalami kesejahteraan. Namun, saat dipimpin oleh Anusapati, kehidupan masyarakat Singasari mengalami penurunan kesejahteraan karena faktor Anusapati yang gemar menyabung ayam.
Pada masa pemerintahan Wisnuwardhana, kehidupan masyarakat SIngasari mulai diatur kembali. Dan terakhir pada masa pemerintahan Kertanagara, ia dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Singasari.

2. Kehidupan Politik
Terdapat beberapa kebijakan politik pada kerajaan SIngasari baik itu politik dalam negeri maupun lura negeri, yaitu :
a. Politik Dalam Negeri
  • Memperkuat angkatan perang
  • Mengadakan reshuffle (pergantian) pada pejabat-pejabat pemerintahan yang kurang maksimal bekerja
  • Berbuat baik kepada lawan politiknya seperti mengangkat Ardharaja (anak Jayakatwang) menjadi menantunya
b. Politik Luar Negeri
  • Dapat menguasai kerajaan-kerajaan nusantara lain, seperti Bali, Sunda, Maluku, Kalimantan Selatan, sampai melayu
  • Melemahkan kekuasaan kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka
3. Kehidupan Budaya
Kehidupan budaya dalam masyarakat kerajaan Singasari banyak ditemukan patung-patung serta candi. Berikut adalah peninggalan budaya kerajaan Singasari :
Sejarah Kerajaan Singasari di Indonesia
SEJARAH KERAJAAN SINGASARI DI INDONESIA
a. Candi Singasari
Candi ini terletak di Kecamatan Singasari Kabupaten Malang Jawa Timur. Candi ini tepat berada di lembah antara gunung Tengger dan gunung Arjuna. Sesuai dengan prasasti Gadjah mada (1351 M), candi ini merupakan tempat pendharmaan daripada raja-raja kerajaan Singasari.

b. Candi Jago
Candi ini terletak di kecamatan Tumpang, Malang Jawa Timur. Candi ini terbuat dari batu andesit dan disusun menyerupai punden berundak-undak. Hal menarik yang ada pada candi ini ialah puncaknya yang terpenggal. Menurut mitos yang berkembang, puncak itu terpenggal akibat sambaran petir. Candi ini didirikan pad amasa pemerintahan Kertanagara sebagai bentuk penghormatan pada Wisnuwardhana (ayah Kertanagara).

c. Candi Sumberawan
Candi ini terletak di desa Toyomarto di kecamatan Singosari, Malang, Jawa Timur. Candi ini berbentuk stupa dan dulunya sering digunakan sebagai tempat ibadah. Candi ini juga terletak di dekat sebuah telaga yang memiliki air bening.

d. Candi Jawi
Candi ini terletak di desa Candi Wates, Kecamatan Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Candi ini tepatnya berada di kaki gunung Welirang. Candi ini dipercaya sebagai tempat penyimpanan abu mendiang raja kerajaan Singasari yang terakhir, yaitu raja Kertanagara.

e. Candi Kidal
Candi ini terletak di desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Malang, Jawa Timur. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke 13 M untuk mengenang sosok raja Anusapati yang telah memerintah selama kurang lebih 20 tahun.

f. Arca Dwarapala
Arca ini berbentuk seperti patung besar yang pada masanya berperan sebagai pertanda atau pintu gerbang untuk masuk ke ibukota kerajaan Singasari, yaitu Kutaraja.

g. Prasasti Mula Malurung
Prasasti ini berbentuk seperti lempengan-lempengan tembaga peninggalan masa pemerintahan Kertanagara. Prasasti ini terdapat 10 lempeng yang masing-masing lempengnya menjelaskan hal yang berbeda-beda.

h. Prasasti Manjusri
Prasasti ini merupakan sebuah manuskrip kuno yang dipahat pada bagian belakang arca Manjusri. Prasasti ini memiliki tahun 1343 M dan mulanya ditemukan di dekat reruntuhan candi Jago. Sekarang prasasti ini telah dipindahkan ke museum nasional di Jakarta. Prasasti ini menuliskan penghormatan kepada keluarga raja. Isi dari prasasti ini ialah :

“Dalam kerajaan yang dikuasai oleh Ibu Yang Mulia Rajapatni maka Adityawarman itu, yang berasal dari keluarganya, yang berakal murni dan bertindak selaku menteri wreddaraja, telah mendirikan di pulau Jawa, di dalam Jinalayapura, sebuah candi yang ajaib- dengan harapan agar dapat membimbing ibunya, ayahnya dan sahabatnya ke kenikmatan Nirwana”

i. Prasasti Singosari
Prasasti ini ditemukan di desa Singosari, Malang, Jawa Timur. Prasasti ini bertarich tahun 1351 M dan bertuliskan dalam aksara Jawa. Candi ini sekarang disimpan di dalam museum Gajah.

j. Prasasti Wurare
Prasasti ini dibuat untuk memperingati penobatan arca Mahaksobhya di sebuah tempat bernama Wurare. Prasasti ini bertarikh tahun 1289 M dan dipahat pada sebuah arca yang melambangkan penghormatan untuk raja Kertanagara. 
Sejarah Kerajaan Sriwijaya di Indonesia

Sejarah Kerajaan Sriwijaya di Indonesia

A. BERDIRINYA KERAJAAN SRIWIJAYA
Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan nusantara yang terletak di pulau Sumatera yang paling besar pengaruhnya dan juga daerah kekuasaannya. Nama Sriwijaya sendiri diambil dari bahasa Sansakerta yaitu “Sri” yang artinya bercahaya atau gemilang, dan “Wijaya” yang berarti kemenangan atau kejayaan. Jadi kerajaan Sriwijaya dapat diartikan sebagai kerajaan gemilang yang meraih kemenangan atau kejayaan.

Sebenarnya, tahun berdirinya kerajaan Sriwijaya tidak diketahui dengan pasti, oleh karena keterbatasan bukti-bukti yang mendukungnya. Tetapi, dari bukti yang tertua yang ditemukan adalah sebuah berita dari China pada tahun 682 M dimana ada seorang pendeta dari Tiongkok yang bernama I-Tsing yang ingin belajar agama Buddha di India. Sebelum sampai ke India, pendeta tersebut singgah terlebih dahulu di Sriwijaya untuk mendalami bahasa Sansakerta selama 6 bulan. Pada saat itu, kerajaan Sriwijaya sedang dipimpin oleh Dapinta Hyang.

Bukti kedua ialah adanya prasasti Kedukan Bukit tahun 683 M yang merupakan prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di Palembang. Isi dari prasasti tersebut ialah raja Sriwijaya bernama Dapunta Hyang mengadakan ekspansi selama 8 hari dengan membawa 20.000 tentara dan berhasil menaklukkan beberapa daerah.

Dari kedua bukti tersebut, maka dapat disimpulkan bahwasanya kerajaan Sriwijaya berdiri atau terbentuk pada abad ke 7 Masehi di pulau Sumatera, tepatnya di daerah Palembang sekarang ini.
Pada tahun 1993, seorang peneliti bernama Pierre Yves Manguin mengadakan penelitian dan menemukan bahwasanya pusat pemerintahan kerajaan Sriwijaya terletak di Sungai Musi, antara Seguntang dan Sabokingking yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan sekarang ini.

Sebelum penelitian tersebut, Soekmono berpendapat bahwa pusat kerajaan Sriwijaya sebenarnya terletak di kawasan sehiliran Batang Hari, antara Muara Sabak sampai ke Muara Tembesi (di provinsi Jambi sekarang), dengan catatan Melayu tidak masuk ke dalam kawasan tersebut. Namun, jika melayu masuk ke dalam kawasan itu, maka ia sependapat dengan Moens yang menemukan bahwa pusat kerajaan Sriwijaya terletak di kawasan Muara Takus (provinsi Riau sekarang) berdasarkan bukti petunjuk arah perjalanan I-Tsing dan dapat dikaitkan dengan berita tentang pembangunan candi yang dipersembahkan kepada Kaisar China oleh raja Sri Cudamaniwarmadewa pada tahun 1003 M yang salah satu bagian candi tersebut terletak di Muara Takus. Namun, pastinya saat penaklukkan oleh Narendra Chola I yang berasal dari kerajaan Cholamandala Sriwijaya telah beribukota di Kadaram (Kedah sekarang). Hal ini tersebut di dalam prasasti Tanjore.
Sejarah Beridir Hingga Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya di Indonesia
KERAJAAN SRIWIJAYA
B. RAJA-RAJA KERAJAAN SRIWIJAYA
1. Dapunta Hyang
Pada masa pemerintahannya, Dapunta Hyang telah berhasil memperluas kekuasaan Sriwijaya sampai ke Jambi. Sejak awal pemerintahannya, Dapunta Hyang telah bercita-cita membuat kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan bercorak maritim. Bukti bahwa raja ini pernah berkuasa dapat ditemukan di prasasti Kedukan Bukit yang bertarikh tahun 683 M.

2. Dharmasetu
Pada masa pemerintahannyam Dharmasetu memperluas lagi kekuasaan Sriwijaya sampai ke Semenanjung Malaya. Sriwijaya bahkan membangun sebuah pangkalan di daerah Ligor. Lalu, sriwijaya juga mampu menjalin hubungan diplomatik dengan China dan India. Pada masa ini pula kapal-kapal yang berlayar dari India dan China singgah ke Bandar-bandar Sriwijaya.

3. Balaputradewa
Raja Balaputradewa memerintah kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke 9. Hal ini diketahui dari prasasti Nalanda. Pada masa pemerintahannya, Sriwijaya mampu menjadi pusat agama Buddha di Asia Tenggara. Ia juga menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan Nalanda dan Cola. Raja Balaputradewa adalah keturunan daripada dinasti Syailendra, yaitu putra dari raja Samaratungga dengan Dewi Tara dari Sriwijaya.

4. Sri Sudamaniwarmadewa
Pada masa pemerintahannya, kerajaan Sriwijaya mendapat serangan dari raja Darmawangsa dari Jawa Timur. Namun, serangan tersebut berhasil dipatahkan.

5. Sanggrama Wijayattunggawarman
Pada masa pemerintahannya, kerajaan Sriwijaya berhasil ditaklukkan oleh raja Rajendra Chola dari kerajaan Chola. Sanggrama Wijayattunggawarman pun ditawan, dan dibebaskan kembali pada masa raja Kuluttungga I dari kerajaan Chola.

Selain itu, raja-raja yang pernah menguasai kerajaan Sriwijaya adalah sebagai berikut, yaitu :
  1. Sri Udayadityawarman
  2. Hie-Tche
  3. Sri Cudamanivarmadewa
  4. Sri Maravijayottungga
  5. Sumatrabhumi
  6. Sangramavijayattungga
  7. Rajendra Dewa Kulottungga
  8. Rajendra II
  9. Rajendra III
  10. Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa
  11. Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa
  12. Srimat Sri Udayadityawarman

C. MASA KEEMASAN SRIWIJAYA
Kerajaan Sriwijaya menemui masa keemasannya pada sekitar abad ke 9-10 Masehi. Saat itu, Sriwijaya dipimpin oleh raja Balaputradewa. Sriwijaya dapat menguasai hampir seluruh Sumatera, Kalimangan Barat, Jawa Barat, dan Semenanjung Melayu. Mereka juga berhasil menguasai jalur perdagangan maritim di Asia Tenggara. Kerajaan Sriwijaya juga menguasai selat malaka dan selat sunda, yang menjadikan mereka menjadi pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal.
Sejarah Berdiri Hingga Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya
KERAJAAN SRIWIJAYA
Oleh karena daerah yang dikuasainya, maka kerajaan Sriwijaya disebut juga sebagai kerajaan Nusantara pertama. Sriwijaya pernah menjadi kerajaan maritim karena memiliki angakatan laut yang kuat dan wilayah perairan yang luas, pusat agama Buddha yang dibuktikan dari hasil perjalanan I-Tsing, pusat pendidikan, dan pusat perdagangan di Asia Tenggara.

Sriwijaya juga mengambil biaya bea dan cukai bagi pedagang-pedagang asing yang atau kapal-kapal yang melewati dua selat tersebut. Jasa pelabuhan dan juga perdagangan menjadi lahan Sriwijaya untuk mendapatkan keuntungan, terlebih dari pedagang atau kapal dari India dan China.

D. RUNTUHNYA KERAJAAN SRIWIJAYA
Berikut ini ialah yang menjadi beberapa faktor mundurnya dominasi kerajaan Sriwijaya di nusantara, yaitu :
  • Berkembangnya kekuatan kerajaan di Jawa dan India. Pertama-tama kerajaan Cholamandala yang dipimpin oleh raja Rajendrachola menyerang kerajaan Sriwijaya pada tahun 1017. Serangan ini dilanjutkan pada tahun 1025, yang mengakibatkan raja Sriwijaya saat itu ditawan.
  • Dilakukannya ekspedisi Pamalayu oleh kerajaan Singasari yang menyebabkan wilayah melayu lepas dari kekuasaan kerajaan Sriwijaya
  • Lemahnya kontrol pusat pemerintahan Sriwijaya terhadap daerah kekuasaannya, sehingga memudahkan daerah-daerah tersebut memisahkan diri
  • Perubahan letak pusat pemerintahan Sriwijaya akibat pengendapan lumpur sungai Musi, yang mengakibatkan pusat pemerintahannya jauh dari pantai. Sehingga ibukota Sriwijaya kurang diminati lagi
  • Terjadinya penyerangan yang dilakukan oleh kerajaan Majapahit, yang mengakibatkan jatuhnya kerajaan Sriwijaya

E. PENINGGALAN KERAJAAN SRIWIJAYA
1. Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti ini ditemukan oleh M. Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di desa Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, di tepi sungai Tatang yang mengalir ke sungai Musi. Saat ditemukan, prasasti ini berukuran 45 x 80 cm dengan bentuk menyerupai batu kecil. Huruf yang terdapat diatasnya ialah aksara Pallawa yang menggunakan bahasa Melayu Kuna. Sekarang, prasasti ini disimpan di Museum Nasional Indonesia.

2. Prasasti Kota Kapur
Prasasti ini ditemukan di pesisir barat pulau Bangka pada bulan Desember 1892 M oleh J.K van der Meulen yang bertarikh tahun 682 Masehi. Prasasti ini juga menggunakan aksara Pallawa dengan bahasa Melayu Kuna. Kota Kapur berbentuk tugu persegi-segi dengan ukuran tinggi 177 cm, lebar 32 cm pada bagian dasar, dan 19 cm pada bagian puncak.

3. Prasasti Talang Tuo
Prasasti ini bertarikh tahun 684 Masehi dan ditemuka di sebelah barat kota Palembang, Sumatera Selatan. Isi dari prasasti ini yaitu tentang pembuatan sebuah taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang Sri Jayanaga yang bertujuan untuk mendapati kemakmuran

4. Prasasti Talang Batu
Prasasti ini ditemukan di Palembang dan berisi tentang kutukan-kutukan kepada orang-orang yang membuat kejahatan dan orang-orang yang melanggar perintah raja

5. Prasasti Palas
Ditemukan di desa Palas, Lampung Selatan yang berisi tentang Lampung Selatan yang telah dikuasai oleh kerajaan Sriwijaya

6. Prasasti Ligor
Prasasti ini bertarikh tahun 775 Masehi dan ditemukan di tanah Genting Kra. Isinya ialah mengenai kerajaan Sriwijaya yang diperintah oleh raja Darmaseta  

7. Prasasti Karang Birahi
Prasasti ini ditemukan pada tahun 686 Masehi di Jambi dan isinya sama dengan prasasti Kota Kapur tentang permohonan keselamatan.